-->

Welcome to HIMA JPE UNESA SITES

Mengusung energi milenial melalui slogan KREDIBEL (Konstruktif, Religius, Dinamis, Berintegritas, Loyal)

About Us

WE ARE CREATIVE MILENIAL

HIMA JPE merupakan sebuah organisasi mahasiswa selingkup jurusan yang menaungi aspirasi, minat dan bakat mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi universitas negeri surabaya.

Mengusung slogan KREDIBEL diharapkan dapat memberi warna baru dan menjadikan HIMA JPE lebih progresif dalam mengembangkan potensi mahasiswa JPE.

Services

What We Do?

WEB DESIGN

Laman web resmi HIMA JPE UNESA dapat diakses melalui mobile phone di chrome atau mozilla firefox pada perangkat PC/Laptop.

GRAPHICS DESIGN

Terdapat beberapa kumpulan desain grafis maupun konten menarik sebagai referensi untuk membuat desain grafis.

DOCUMENTATION

Setiap moment atau kegiatan selalu diabadikan dan disimpan dengan rapi pada database dokumentasi kegiatan.

BRANKAS

Tersedia beberapa file dokumen penting dari berbagai kegiatan untuk keperluan dokumen pendukung.

PROGRESS

Laporan prestasi dan kotak aspirasi online tersedia untuk menghimpun data prestasi mahasiswa serta aspirasi mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi.

24/7 Support

Dibuka layanan konsultasi dan komunikasi online bersama administrator selama 24 jam melalui laman contact yang tersedia.

124000

VISITOR

1424

COMPLETE PROJECT

2136

ENJOY MOMENT

35

AWARDS

TEAM

MEET OUR AWESOME TEAM

Berikut ini adalah data diri jajaran TIM REDAKSI HIMA JPE UNESA periode tahun 2020.

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
M. Alvin Haidar
KADIV HUMAS
image
Bella Melati Sukma
KABID KOMINFO
image
Cheyzara Rahmah
KABID JURNALISTIK
image
Mitron Bayu I.
KAHIMA 2020
BRANKAS

Berikut ini adalah database sesuai dengan Kategori

DATA 1

Prestasi Mahasiswa JPE
  • Prodi PE
  • Prodi PAP
  • Prodi PAK
  • Prodi PTN

DATA 2

OUR VOICE
  • Aspirasi Untuk Jurusan
  • Evaluasi HIMA
  • Sarana Prasarana
  • Problematika

DATA 3

OPREC AKBAR
  • ECOLY 2020
  • SINE 2020
  • PORSEMA
  • EEFT
img

Mitron Bayu I.

KAHIMA 2020

Junjung tinggi solidaritas, kredibilitas, loyalitas dan selalui berintegritas demi konstruktualitas berkualitas.

img

Damayanti Indraswari

WAKAHIMA 2020

Jadikan HIMA JPE ini sebagai wadah berproses, berkontribusi dan berprestasi. Mari buktikan bersama bahwa JPE adalah porosnya FE dan akan selalu menjadi garda terdepan.

Blog

LATEST FORM Blog

PEMBAGIAN KELOMPOK MENTORIN



 Assallamuallaikum wr wb 

Hallo Dewantara Muda 👋👋

Perkenalkan kami dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi 2020 akan menginformasikan terkait pembagian kelompok untuk kegiatan Mentoring. 

📌Apa sih mentoring?
Mentoring merupakan kegiatan dimana Ki Hajar Dewantara Muda bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman, serta agenda tutor sebaya yang menyenangkan. Tentunya sebagai bekal ilmu dalam dunia perkuliahan 😃

Silahkan di cek terkait dengan pembagian kelompok dan segera konfirmasi ke Mentor masing-masing ya.. Untuk konfirmasinya silahkan menghubungi WA pada nomor yang sudah tersedia, kami tunggu paling lambat besok Senin, 19 Oktober 2020 Pukul 11.00 WIB

Semoga Ki Hajar Dewantara Muda dapat memanfaatkan tutor sebaya ini dengan baik yaa tentunya untuk mengenal kehidupan perkuliahan di Jurusan Pendidikan Ekonomi✨✨
Sampai bertemu di kegiatan mentoring 2020, tetap semangaat 🤗🤗

berikut adalah link data kelompok mentoring 2020

http://bit.ly/KELOMPOKMENTORING2020



PEMBAGIAN KELOMPOK BPE

 Assalamualaikum Wr.Wb

Apa kabar teman teman semuanyaa?Semoga sehat selalu ya 

Siapa nih yang suka berbisnis?atau mungkin mau bikin bisnis?Tau gak sih bisnis itu perlu persiapan yang matang?Jangan sampe asal-asal an loh.Pada kali ini kami dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi mengadakan Bussines Plan Education yang berisi tentang edukasi dalam kegiatan berbisnis.Nantinya kalian akan diajari untuk membuat perencanaan bisnis yang pasti berguna banget untuk kalian nantinya.

Acara ini akan dilaksanakan pada:

Jumat,16 & 23 Oktober 2020

Melalui media google meet 

Kami harap,kalian bisa mengikuti kegiatan ini karena acara ini berguna banget buat kalian untuk bekal membuat PMW nantinya.Jangan lupa ikutan ya.

Berikut adalah pembagian kelompok BPE, silahkan dicek dan lihat siapa saja yang menjadi kelompok kalian✨

http://bit.ly/PembagianKelompokBPE2020

Mari kita meriahkan acara BPE besok dan menjadi pebisnis muda yang sukses😇


See you tomorrow👋👋👋

Wassalamualaikum.Wr.Wb


AMEDIACY "ART MEDIA AND LITERACY" EDISI I

 


































 

PENGUMUMAN HASIL OPEN RECRUITMENT MCMG 2020


Assalamualaikum Wr. Wb. 
Apa kabar teman-teman semua?🙌 kami berharap semuanya dalam keadaan sehat.

Pasti ada yang lagi ditunggu - tunggu nih, nah penantian yang kalian tunggu akan hadir disini nih. Pasti pada penasaran dengan hasilnya, semoga tetap mendapatkan hasil yang terbaik yaa😊
Setelah melewati masa-masa dimana semua aktivitas kita sedang tertunda oleh pandemi dan segala anjuran dari pemerintah, tentu kami mengharapkan semangat teman-teman yang masih tetap terjaga ya 😃😃. 
Sehubungan telah di berlakukannya New Normal, kami akan mengumumkan hasil dari Open Recruitment MCMG 2020 yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Pengumuman hasil oprec dapat dilihat di link berikut ini :

Dengan beberapa catatan yakni : 
1. Harap segera melakukan konfirmasi ke Contact Person yang terkait (keterangan terdapat di dalam hasil Open Recruitment)
2. Pelaksanaan kegiatan secara online / offline akan menyesuaikan dengan keadaan kedepannya.

Terimakasih atas kerjasamanya dalam pelaksanaan dan kelancaran Open Recruitment MCMG 2020 🙏🙏.

Kami harap semua dapat menerima hasil Open Recruitment ini dengan baik dan bijaksana 😊😊
Selamat bagi yang lolos dalam kepanitiaan kali ini, dan bagi yang belum jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan lainnya dikemudian hari dan tetap semangat😊😊

Dan kami mohon maaf sebesar-besarnya terkait keterlambatan dalam pengumuman hasil Open Recruitment ini🙏

Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Makna "jpe satu"


Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, diciptakan saling berdampingan, dalam hidup diperlukan kekompakan dan kebersamaan untuk menyatukan setiap kelompok. Sungguh indah dan terasa menyenangkan dalam hidup seseorang ketika mengenang masa-masa kebersamaaan mereka baik dengan keluarga, rekan kerja, teman kelas, dan lain-lain di masa lampau. Kebersamaan dan kekompakan seolah menjadi impian setiap orang yang diharapkan akan menjadi kenyataan. Kenyataan untuk menghadirkan dan mempertahankan rasa kepedulian, kasih sayang, saling berbagi, rasa saling mengalah, saling menghormati, dan kerukunan yang diiringi dengan canda tawa pelipur lara.

Kebersamaan tidak berarti selalu bersama kapanpun dan dimanapun. Kebersamaan adalah awal dari terciptanya kedamaian hidup  antar manusia yang menjadi dasar terciptanya kekompakan. Kekompakan adalah bekerja sama secara teratur dan rapi, bersatu padu dalam menghadapi suatu pekerjaan yang biasa ditandai adanya inisiatif untuk saling tolong menolong. Sedangkan kebersamaan adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan pikirkan selalu melibatkan orang lain, karena dampak dan hasilnya selalu dapat dirasakan bersama baik suka maupun duka, serta selalu merasa tenang dalam melakukan suatu pekerjaan karena hati kita selalu merasa bersama.

Kebersamaan dan kekompakan memiliki hubungan yang erat. Tanpa ada kebersamaan, tidak akan ada kekompakan, begitu pula sebaliknya. Kebersamaan dan kekompakan dapat tercipta dengan adanya kesamaan hobi, suku, pekerjaan, adanya waktu untuk berkumpul, dan lain-lain. Kekompakan dan kebersamaan tidak hanya dapat tercipta dalam suatu kelompok kecil, melainkan juga dalam suatu kelompok besar. Misalnya Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya yang mahasiswa dan mahasiswinya terdiri dari berbagai daerah. Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya terdiri dari 4 program studi:
1. Pendidikan Ekonomi
2. Pendidikan Administrasi Perkantoran
3. Pendidikan Akuntansi
4. Pendidikan Tata Niaga

Menjaga persatuan dan kekompakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, inisiatif untuk saling mengerti, rasa ingin saling memaafkan, dan kekompakan. Setiap orang memiliki tujuan hidup dan ego yang berbeda-beda. Setiap orang juga memiliki persepsi yang berbeda walaupun sebenarnya bertujuan sama.

Pernahkah kalian berpikir bagaimana cara Wright bersaudara menyatukan konsep mereka dalam menciptakan model pesawat terbang? Dua orang yang walaupun bersaudara, namun memiliki ide dan kepribadian yang berbeda. Kebersamaan, kekompakan, dan rasa saling mengertilah yang menyatukan mereka, menyatukan persepsi dua orang yang berbeda. Kerja sama merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai sebuah cita-cita besar. Kebersamaan dan kekompakan perlu kita lakukan untuk membesarkan Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Mari kita membangun kebersamaan dan kekompakan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan jangan membangun kebersamaan dan kekompakan dalam keburukan.

Kekompakan memiliki dampak positif dan negatif, dampak positifnya adalah terjalinnya hubungan yang baik antar warga Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya yang menyebabkan terciptanya kerukunan dan adanya sikap mau mengalah serta mengurangi kesalahpahaman. Dampak negatifnya adalah ketika kekompakan diartikan sesuatu yang menimbulkan hal-hal negatif, seperti perkelahian, tawuran, dan lain-lain.

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya menjadi jurusan yang baik dan kompak adalah tetaplah bersikap baik, memiliki inisiatif untuk saling menolong dalam menciptakan kebersamaan dan kekompakan, membangun relasi antar jurusan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dan antar program studi di Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dengan baik. Hindari sifat iri, hindari sifat egosentrisme, dan yang tidak kalah pentingnya adalah tetap jaga kebersamaan dan kekompakan yang telah dibangun. Sama halnya dengan bermasyarakat dalam jenjang kuliah, diperlukan hal-hal tersebut.

Mari kita tingkatkan rasa kebersamaan dan kekompakan. Tanpa dua hal itu, apapun yang kita lakukan akan terasa susah. Dengan adanya kebersamaan dan kekompakan, kita akan merasa nyaman, segala sesuatu terasa mudah dan kita tidak perlu menanggung beban atau masalah sendirian. Mari kita tingkatkan kebersamaan dan kekompakan demi menjaga persatuan, kebersamaan, dan kekompakan dalam wadah Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tak ada gading yang tak retak, tak ada orang yang sempurna, belajarlah untuk memahami orang lain, dan terus jaga kebersamaan dan kekompakan.

Mengapa orde baru membungkam pers?


Oleh : Ahmad Fajar Ramadhan

Media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu. Namun, bagaimana jika media massa atau pers dikendalikan oleh pemerintah secara ketat sampai adanya pembreidelan terhadap media massa?

Kekuasaan politik Orde Baru yang efektif tersebut berakar dari paling tidak empat sumber utama, yaitu represi fisik dan hukum, klientelisme ekonomi, wacana politik partikularistik yang mendukung otoritarianisme, dan pengembangan korporatisme negara. Tatkala Orde Baru berupaya untuk membangun konsolidasi politik di awal l970-an, kekerasan adalah instrumen utama yang dipakai oleh pemerintah Orde Baru dalam mencapai stabilitas politik. Aktivitas politik di periode sebelumnya dihancurkan dan kekuatan oposisi dibatasi. Termasuk dengan kebebasan pers di era orde baru yang sangat dibatasi. David T. Hill dalam bukunya yang berjudul Pers di Masa Orde Baru membahas tentang perkembangan pers setelah merdeka khususnya pada masa pemerintahan Orde Baru. Orde Baru membangun relasi saling terkait yang pelik antara kendali keamanan dan undang-undang tangan besi yang mengendalikan pers. Pers di bawah pemerintahan Presiden Soeharto yang berusaha untuk menghilangkan organ-organ partai dan surat kabar-surat kabat yang kritis, menjinakkan pers pembuat kegaduhan, dan memastikan bahwa para pekerja dan pihak manajemen pers bertanggung jawab secara mutlak pada pemerintah. 

Dalam buku ini juga dipaparkan tentang periode-periode pemerintah melakukan tindakan anti pers atau lebih sering dikatakan sebagai pembredelan terhadap pers, kebebasan pers yang pernah dijanjikan oleh pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto hanya sebagai kebebasan semu. Ini terbukti dari adanya pembreidelan terhadap surat kabar maupun majalah karena dianggap memuat berita yang dapat mengganggu kestabilan politik.

Pada masa Orde Baru terdapat peraturan tentang adanya keharusan mendapatkan izin untuk menerbitkan surat kabar, namun proses untuk mendapatkan izin cukup sulit, ditambah kebebasan pers hampir dikatakan tidak ada ketika adanya Undang-Undang Pers 1982 mencantumkan pasal keharusan mendapatkan Surat Izin Usaha Percetakan Pers (SIUPP), meskipun Surat Izin Terbit dihapus, dengan munculnya SIUPP sebagai alat kontrol terhadap pers oleh pemerintah. Peraturan ini lebih berat dirasakan oleh industri pers karena ketika surat kabar dan majalah dianggap memberitakan isu-isu yang dapat mengganggu kestabilan keamanan dan politik serta kehidupan Presiden Soeharto, maka Menteri Penerangan dapat membatalkan SIUPP yang diberikan. Tindakan tersebut memberikan dampak yang sangat merugikan bagi industri pers karena surat kabar dan majalah dibreidel dan tidak ada sumber rezeki dari industri pers yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi para karyawan.

Pembatalan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) terhadap tiga media massa nasional yaitu Majalah Berita Mingguan Tempo, Editor, dan Detik oleh Pemerintahan Orde Baru pada 21 luni 1994 lalu telah menimbulkan reaksi yang keras dari masyarakat. Praktek pembreidelan terhadap pers itu cukup kontradiktif dengan kampanye keterbukaan politik dan demokratisasi yang digembor-gemborkan oleh Pemerintah Orde Baru. Banyak protes yang muncul dari berbagai kalangan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populer itu. Serangkaian demonstrasi pun meletup, yang dipelopori oleh elemen masyarakat yang beragam, dari wartawan, aktivis-aktivis sosial, mahasiswa, dan cendekiawan. Semuanya bermuara pada gugatan yang sama, yaitu menuntut kebebasan pers di Indonesia dan mengecam tindakan pemerintah yang tidak demokratis. Mereka menganggap apapun alasannya, pembreidelan terhadap pers tidak dapat diterima.

Jaminan terhadap kebebasan pers telah menjadi syarat mutlak bagi upaya demokratisasi. Pers dianggap sebagai pilar demokrasi keempat setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pers memposisikan dirinya menjadi letnbaga kontrol sosial dalam praktek kehidupan bernegara. Melalui lembaga pers, masyarakat dapat melakukan kritik dan koreksi terhadap realitas sosial politik yang sedang berlangsung. Kebebasan pers sekaligus juga manifestasi dari kebebasan berpendapat dan berpikir yang merupakan hak dasar manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Pembreidelan terhadap kehidupan pers adalah suatu bentuk kekerasan terhadap hak dasar manusia. Protes yang muncul atas tindakan pembreidelan pada umumnya berangkat dari keyakinan seperti itu. Represi terhadap kebebasan pers yang bermakna pada kebebasan berpendapat, tentu saja memancing konflik sosial-politik, antara kepentingan pemerintah dan hak masyarakat, yang semua itu mengarah kepada situasi yang tidak harmonis.

Di bawah kondisi politik yang otoriter, tarik menarik antara kepentingan pemerintah dan masyarakat secara umum, selalu saja dimenangkan oleh pemerintah. Akibatnya pers tidak lagi bebas dalam menyuarakan kepentingan publik, tapi ia harus tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang diterapkan oleh pemerintah. Apabila pers keluar dari jalur yang secara hegemonik ditancapkan oleh pemerintah, maka berakibat hilangnya hak hidup pers yang bersangkutan. Pemerintah melalui lembaga-lembaga di bawahnya akan menghabisi eksistensi pers tersebut.

BERDAMAILAH SEMESTA







Kini seluruh dunia sedang menjadi panggung drama, dimana semesta lah yang sedang berperan di dalamnya. Tidak ada yang tahu pasti apakah pandemi ini terjadi atas kehendak alam semesta atau  ada konspirasi dibalik ini semua. Tetapi kita ketahui bersama bahwa Covid19 benar-benar ada dan sudah memakan jutaan korban jiwa di seluruh dunia. Semua manusia mengalami culture shock atau gegar budaya. Menurut ilmu antropologi culture shock yaitu kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial. Jadi pandemi yang sedang terjadi membuat manusia menjadi bingung dan sukar beradapatsi untuk melakukan kegiatan. 

Dalam hal ini kemunculan Covid19 menjadi ancaman bagi kehidupan  terutama dalam hal kesehatan, bahkan mampu mengancam nyawa. Tetapi tidak menutup kemungkinan Covid19 ini akan berdampak memunculkan sebuah masalah baru, terutama pada bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dll. Hal inilah yang menjadi sebuah krisis besar yang harus dihadapi dan harus mencari solusi yang solutif tanpa diskriminasi hak sesama. 
Bahaya dan ketakutan adalah hal yang berbeda, namun pada masa pandemi seperti sekarang ini kedua hal tersebut sangatlah tipis bedanya. Kondisi saat ini lebih banyak orang mengalami ketakutan, sehingga mengalami depresi atau stress dan banyak orang yang melakukan tindakan atas dasar ketakutan untuk menghindari bahaya dari Covid19 sehingga tidak jarang menjumpai oknum yang memanfaatkan pandemi ini untuk keuntungan pribadi tanpa menimbang kemaslahatan orang banyak. Presiden Ir. Soekarno pernah berpesan ” Kita hidup dalam dunia ketakutan. Kehidupan manusia saat ini berkarat dan terasa pahit karena ketakutan akan masa depan, takut akan bom hidrogen, takut akan ideologi. Mungkin ketakutan ini adalah bahaya yang lebih besar daripada bahaya itu sendiri, karena ketakutanlah yang mendorong manusia untuk bertindak bodoh untuk bertindak tanpa berpikir, untuk bertindak berbahaya.” pesan tersebut sangat bermanfaat bagi kita untuk berperilaku arif dalam mencegah atau menghindari ancaman dari Covid19. Jangan jadikan ketakutan sebagai pandangan pesimis, jadikan kewaspadaan sebagai tindakan yang optimis.
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata dalam bukunya (Bumi Manusia) “Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya.” Dari kutipan tersebut kita bisa memetik pesan moral bahwa sebagai manusia yang terpuji ialah manusia yang mampu melakukan kemauan baiknya dan bermanfaat bagi sesama. Pada masa pandemi  seperti ini hal yang penting adalah simpati dan empati sosial, yaitu bersama bergandengan tangan dan bergotong-royong melawan Covid19.  

MENGASA DALAM ASA


Indonesia sedang dirundung oleh berbagai ujian, banyak manusia yang merasa terpuruk dan jatuh didalam kondisi saat ini, mereka sebenarnya tidak mengetahui bagaimana kondisi sesungguhnya yang dihadapi oleh orang - orang diluar sana dengan banyak sekali kekurangan. Kita sedang diposisi yang sama yaitu sedang tersenyum tapi ingin menangis, sedang berbicara tapi ingin diam, sedang terbebas tapi ingin terbelenggu, dan ada satu persatu rasa ingin hilang itu muncul. Ada banyak langkah kita saat ini yang sedang terhenti oleh kondisi dan waktu yang terus mengitari dan kembali lagi kepada semesta yang menyelesaikannya. Syukuri dalam setiap apa yang kamu miliki, karena belum tentu apa yang kamu miliki dapat dimiliki orang lain diluar sana. Biarkan kali ini semesta yang bekerja untuk menyelesaikan semua ini dengan caranya, biarkan semesta bermain peran sesungguhnya, biarkan semesta yang menjawab pertanyaan semuanya dengan jawaban yang mengindahkan dan menyejukkan. Kita genggam tangan orang - orang disekitar kita untuk sama - sama saling menguatkan, memberi rasa nyaman untuk terus berjalan di koridor yang sudah disediakan, kita yakin kita bisa melewati ini semua bersama - sama dan yakinlah kita sedang berada di posisi yang sama dan tidak sedang sendiri ditempat yang sepi. Kamu hanya saja sedang dihantui rasa takut dan sedang berada pada ruang hampa yang hanya ada di ilusi diri sendiri, kamu merasa hanya ada kamu sendiri ditempat itu, matamu hanya terpejam sementara untuk melihat kegelapan, kini waktunya kamu membuka mata untuk melihat indahnya warna - warni dari duniamu yang penuh dengan kebahagiaan dan kesetiaan.

REFLEKSI HARI BURUH 1 MEI 2020


Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan

Hari Buruh pada umumnya dirayakan pada tanggal 1 Mei, dan dikenal dengan sebutan May Day. Hari buruh ini adalah sebuah hari libur (di beberapa negara) tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politik hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja. 

Indonesia pada tahun 1920 juga mulai memperingati hari Buruh tanggal 1 Mei ini. Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni Soviet, sesudah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC pada peringatan tersebut menurut dia hadir juga Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein. Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian Gerakan 30 September pada 1965 ditabukan di Indonesia. 

Semasa Orde Baru berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas, karena mayoritas negara-negara di dunia ini (yang sebagian besar menganut ideologi non komunis, bahkan juga yang menganut prinsip anti komunis), menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya sebagai hari libur nasional. 

Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota. Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori "membahayakan ketertiban umum". Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena mereka masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif dan didalangi gerakan komunis. 

Kenaikan upah menjadi isu yang selalu melekat ketika terjadi aksi mogok kerja serikat buruh di Indonesia pasca reformasi. Isu ini seolah-olah menjadi isu tunggal yang diperjuangkan kaum buruh ketika aksi mogok, aksi blokade jalan, ataupun aksi demonstrasi. Kata “buruh” dan “upah” seakan-akan melekat satu sama lain antara definisi dan maknanya, berbicara buruh dikonotasikan berbicara tentang upah sehingga pemerintah dan publik sering terjebak dalam kesempitan isu ketika berbicara tentang buruh. Asumsi tersebut meruncing pada relasi isu kebijakan pemerintah dengan kaum buruh hanya sebatas pada masalah Upah Minimum Provinsi/Kabupaten (UMP/UMK). Diakui bahwa kenaikan upah memang menjadi isu strategis yang diperjuangkan oleh kaum buruh tetapi bukan menjadi isu tunggal dari perjuangan
gerakan buruh.

Isu kenaikan upah buruh menjadi memanas tatkala harus berhadapan dengan negara dan pasar. Semasa Orde Baru, kasus Marsinah menjadi titik hitam bagi sejarah politik Indonesia tatkala buruh harus dijadikan tumbal ‘kongkalingkong’ antara negara dan pasar. Marsinah menjadi salah satu saksi bisu kejamnya negara dan pasar dalam membungkam aksi perjuangan kaum buruh di Indonesia tatkala menuntut kenaikan upah sebagai salah satu hak perburuhan. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) saat itu menjadi representasi negara dalam merepresi kaum buruh, sedangkan asosiasi pengusaha menjadi representasi pasar untuk menekan pemerintah.

Isu perjuangan kaum buruh semasa Orde Baru tidak hanya semata masalah kenaikan upah, tetapi perjuangan hak sipil politik atas eksistensi organisasi mereka. Rezim Orde Baru sangat represif atas eksistensi organisasi serikat buruh. Mereka tidak hanya dicap sebagai antek-antek Partai Komunis Indonesia (PKI), tetapi juga dianggap sebagai penghambat pembangunan. Aksi mereka sering dimaknai sebagai tindakan subversif melawan Negara ketimbang dimaknai sebagai realitas politik demokratis. Pemosisian kaum pemodal sebagai mitra pembangunan Orde Baru menjadi ancaman tambahan bagi nasib kaum buruh.

Oligarkisme ekonomi yang ditunggangi kekuatan militer menjadi sebuah struktur politik yang harus dihadapi oleh serikat buruh saat itu. Oleh sebab itu, isu utama yang diperjuangkan kaum buruh semasa Orde Baru lebih banyak mengarah pada masalah tuntutan hak sipil dan hak politik, yaitu eksistensi dan independensi politik serikat organisasi kaum buruh.

Isu dominan mereka bukan lagi represif negara tetapi lebih mengarah pada tekanan pasar internasional dibawah bendera Multi National Corporation (MNC), World Trade Organization (WTO), dan Bank Dunia. Pasar menjadi musuh nyata gerakan buruh dan pemerintah kian bingung ketika harus mediasi antara kepentingan buruh dengan pengusaha. Pengusaha dan buruh sama-sama membangun kekuatan dan jejaring politik agar kepentingan mereka bisa terakomodasi dalam proses pembuatan kebijakan.

Salah satu prestasi politik awal tuntutan buruh pasca reformasi di ranah kebijakan publik yaitu dikeluarkannya Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.Yang cukup menjadi ancaman serius bagi pengusaha dalam undang-undang tersebut adalah tentang sanksi yang akan diberikan oleh negara kepada perusahaan yang mencoba melanggar ketentuan Upah Minimum Provinsi (UMP). Pengusaha yang tidak membayarkan upah sesuai ketentuan UMP dianggap sebagai pelaku kejahatan dengan ancaman sanksi penjara dari satu hingga empat tahun dan denda minimal Rp. 100.000.000 dan maksimal Rp. 400.000.000. UMP yang ditetapkan merupakan gaji pokok bagi pekerja yang masih belum menikah dan punya masa kerja 0-12 bulan.

Kebebasan buruh berserikat seringkali terancam oleh pihak pengusaha, pengusaha menganggap bahwa keberadaan serikat buruh hanya sebagai penganggu jalannya usaha. Bentuk ancaman yang seringkali terjadi adalah gaji yang akan diturunkan, pelayanan kesehatan dan perlindungan kerja yang tidak baik, serta pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. 

Tujuan dibentuknya serikat buruh/serikat pekerja adalah menyeimbangkan posisi buruh dengan pengusahannya. Melalui perwakilan buruh di dalam serikat buruh/serikat pekerja, diharapkan aspirasi buruh dapat sampai kepada pengusahanya. Selain itu, melalui wadah serikat buruh/serikat pekerja ini diharapkan akan terwujud peran serta buruh dalam proses produksi. Hal ini merupakan satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hubungan industrial di tingkat perusahaan. 

Serikat buruh atau serikat pekerja yang merupakan sarana untuk memperjuangkan kepentingan pekerja haruslah memiliki rasa tanggung jawab atas kelangsungan perusahaan dan begitu pula sebaliknya, pengusaha harus memperlakukan pekerja sebagai mitra sesuai harkat dan martabat kemanusiaan.

Antara Ki Hadjar Dewantara dan Nadiem Makarim


Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan

Ki Hadjar Dewantara selama era kolonialisme Belanda, beliau dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan. Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan beliau diasingkan ke Belanda, dan beliau kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Filosofinya, tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), digunakan sebagai semboyan dalam dunia pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai menteri pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia. Sebagai menteri pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, beliau dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Perhatian dan kontribusi terhadap pendidikan Indonesia melalui jabatan dalam pemerintahan, di era milenial sosok Ki Hadjar Dewantara bertransformasi menjadi Nadiem Makarim yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Joko Widodo-K.H Ma'ruf Amin. Nadiem Makarim sebelum menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI adalah seorang pengusaha yang menjabat direktur utama Gojek (perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek). 

Pada 22 Oktober 2019, Nadiem dipanggil secara resmi menyatakan bahwa dirinya mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Gojek setelah pagi harinya dipanggil oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan kabinet menterinya dengan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan mencanangkan kebijakan "Merdeka Belajar" yang salah satunya menghapus Ujian Nasional (UN). Namun, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI pada 12 Desember 2019, Nadiem Makarim mengklarifikasi istilah "menghapus" Ujian Nasional yang ramai di pemberitaan. Nadiem Makarim mengatakan tidak menghapus Ujian Nasional tetapi hanya menggantinya dengan sistem baru.

Menurut Nadiem Makarim, esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem Makarim menyebut, dalam kompetensi guru di level apapun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar ini selaras dengan 2 tulisan kolom Ki Hadjar Dewantara yang berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga" dan “Als ik een Nederlander was” atau "Seandainya Aku Seorang Belanda".

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Ki Hadjar Dewantara. Beliau kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Akibat tulisan-tulisan kolomnya itu beliau ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913).

Korelasi antara tulisan kolom Ki Hadjar Dewantara dan program kebijakan Merdeka Belajar dari Nadiem Makarim ini yaitu pada konsep kemerdekaan dalam hal memperoleh pendidikan. Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 yaitu salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Dalam hal ini mencerdaskan kehidupan bangsa harus diartikan secara mendalam dan menyeluruh. Artinya bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya dijadikan sebuah alat untuk menaikkan derajat sosial ekonomi saja, namun harus dapat menjadikan manusia sebagai manusia yang terdidik dan berkompetensi dalam menjawab tantangan zaman. Demikian, semoga dapat menjadi sumbangsih bagi kemajuan pendidikan di Indonesia demi memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Selamat Hari Pendidikan.

ESENSI HARI PENDIDIKAN DARI KAMI MAHASISWA INDONESIA


Sedikit persembahan dari Kami Mahasiswa Indonesia sebagai sumbangsih dalam memaknai hari pendidikan nasional 2 Mei 2020. Di tengah berlakunya physical distancing, tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak berpartisipasi dalam memperingati Hardiknas 2020. Persembahan sederhana ini mungkin bisa menjadi penyemangat dan refleksi diri untuk pendidikan yang berkemajuan.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN

Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya
Cobaan kiranya terus datang tanpa jeda
Dari bencana banjir di beberapa kota, hingga virus yang
mengancam kehidupan manusia

Tak sedikit penghuni negara gugur akibat wabah corona
Seluruh aspek kehidupan seperti diguncang kekhawatiran
Tak terkecuali pendidikan

Bangsa kita berideologi pancasila
Tidak diragukan nilai-nilai kebaikan dalam setiap sila-nya
Itulah dasar pendidikan kita
Bangsa kita berlambang burung garuda
Tajam tatap matanya, kuat kokoh sayapnya, tegak gagah tubuhnya

Biar pendidikan formal kita terkendala
Biar raga kita #dirumahsaja
Namun, bangsa kita bangsa garuda
Terbang menembus batas, menggapai cita tanpa putus asa
Tetap semangat belajarnya walaupun dirumah saja

Langkahkan kaki kita menuju Indonesia sejahtera
Pendidikan ada sebagai lentera kemajuan bangsa
Ayo kita petik bunga tidur kita
Mari melangkah bersama untuk berkarya

Selamat Hari Pendidikan, 02 Mei 2020
Dari Kami Mahasiswa Indonesia

Salam Hormat Kami,
Divisi Pali 2020



Celotehan Malam Ini ....

By : Aktivis_Pawon


Sorotan keemasan yang seakan melekat pada daun pohon jati dekat kandang sapi yang bersemi. Menjadi serangkaian dan perpaduan kenikmatan tak terkira pada pagi ini. Dengan sedikit dibumbuhi senyuman manis dari sang makhluk ciptaan ilahi, semakin menggugah selera sang pujaan hati serta mengundang keriuhan burung yang saling bersautan dalam bernyanyi, juga menambah keelokan rumah sederhana dengan dapur reyot berdindingkan gedeg (sebuah anyaman dari bambu). Inginku lari dan kuraih rasa yang pernah mati dan akan kuhidupkan serpihan hati yang sudah cukup lama tak berarti. Kucoba menghapus jejak memori tentang indahnya masa laluku. Dan kubangkit untuk kesekian kalinya dari keterpurukan yang hakiki. Demi bisa menjalani kehidupan yang nampak berseri. Seonggok harapan kini telah menyapa. Kemudian kurajut asa dengan pasti sehingga tak ada sedikit pun perasaan ragu didalamnya. 

Namun apa daya, jerih payah yang kubangun ternyata dianggap sia-sia tanpa sisa. Ingin kumaki diri ini yang sama sekali tak berguna. Persoalan yang sepele seakan menjadi hal yang pelik namun bisa mencekik. Ribuan keluh kesah dengan mudah kusebar kesemua orang tanpa terkecuali. Betapa dermawannya diriku yang baik dan bermurah hati membagi luka pada setiap insan pengabdi ilahi.

"Duh gusti.. ampuni hambamu ini yang tak pantas dikasihi. Hanya menyusahkan kekasih hati namun masih rendah hati kok (kalo aja nggak khilaf wkwk)."

Kolaborasi aksi dan hati antar sahabat sejati turut andil dalam menyukseskan  sinergi berbagi pentingnya meniti dan menata hati denagn menguliti hal yang menyakitkan hati ini. Waktu berselang dan berlalu dengan cepat. Tak sengaja kujumpai seorang lelaki yang berparas rupawan namun sikapnya agak dingin seperti batu yang disimpan pada lubang tanpa tawa. Sengaja ku menengadah dan kuraih tangannya dengan sedikit kulirik telapak yang penuh sayatan  bekas memegang parang. Kutebas semua rasa ragu yang selama ini telah menggrayungi pikiran. 

Sejenak aku menghela napas agar pernapasan terkesan lancar. Kuberanikan diri untuk lekas memegang erat tangan kanannya sembari ku berjalan disampingnya. Terlintas dalam benakku untuk tidak ingin lengah sedikit pun dari hadapannya. Ku ingin selalu berjalan beriringan dengannya entah itu dalam waktu canda tawa bahkan gundah gulana. Kuhentikan langkah kaki ini dan kutengok wajahnya yang nampak kusam dan mendaki akibat sengatan sang surya. Siang itu suasana sangat mendukung, angin semilir seakan tahu romansa yang sedang terjadi, dedaunan sedang asyiknya menari-nari seakan bersuka cita menyambut kedatangan kami. Langkah demi langkah, kami menyisir tanah lapang dengan sekat segerombol pohon kayu putih yang berderet rapi (persis tentara yang  siap berperang) dengan tinggi sepundakku. Aku pun sadar semua ungkapan tadi hanyalah isapan jempol semata yang kuukir dalam sebuah imajinasi yang entah kapan akan menjadi suatu kenyataan yang berarti.
Contact

Send Us A Email

Address

Contact Info

Sekretariat HIMA JPE FE Unesa Gedung G11, Universitas Negeri Surabaya. Surabaya - Jawa Timur | Indonesia.

Address:

Jl. Ketintang, Surabaya

Phone:

+6281335684810 (Haidar)

Email:

himajpeunesa@gmail.com