Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan
Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan
Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, diciptakan saling berdampingan, dalam hidup diperlukan kekompakan dan kebersamaan untuk menyatukan setiap kelompok. Sungguh indah dan terasa menyenangkan dalam hidup seseorang ketika mengenang masa-masa kebersamaaan mereka baik dengan keluarga, rekan kerja, teman kelas, dan lain-lain di masa lampau. Kebersamaan dan kekompakan seolah menjadi impian setiap orang yang diharapkan akan menjadi kenyataan. Kenyataan untuk menghadirkan dan mempertahankan rasa kepedulian, kasih sayang, saling berbagi, rasa saling mengalah, saling menghormati, dan kerukunan yang diiringi dengan canda tawa pelipur lara.
Kebersamaan tidak berarti selalu bersama kapanpun dan dimanapun. Kebersamaan adalah awal dari terciptanya kedamaian hidup antar manusia yang menjadi dasar terciptanya kekompakan. Kekompakan adalah bekerja sama secara teratur dan rapi, bersatu padu dalam menghadapi suatu pekerjaan yang biasa ditandai adanya inisiatif untuk saling tolong menolong. Sedangkan kebersamaan adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan pikirkan selalu melibatkan orang lain, karena dampak dan hasilnya selalu dapat dirasakan bersama baik suka maupun duka, serta selalu merasa tenang dalam melakukan suatu pekerjaan karena hati kita selalu merasa bersama.
Kebersamaan dan kekompakan memiliki hubungan yang erat. Tanpa ada kebersamaan, tidak akan ada kekompakan, begitu pula sebaliknya. Kebersamaan dan kekompakan dapat tercipta dengan adanya kesamaan hobi, suku, pekerjaan, adanya waktu untuk berkumpul, dan lain-lain. Kekompakan dan kebersamaan tidak hanya dapat tercipta dalam suatu kelompok kecil, melainkan juga dalam suatu kelompok besar. Misalnya Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya yang mahasiswa dan mahasiswinya terdiri dari berbagai daerah. Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya terdiri dari 4 program studi:
1. Pendidikan Ekonomi
2. Pendidikan Administrasi Perkantoran
3. Pendidikan Akuntansi
4. Pendidikan Tata Niaga
Menjaga persatuan dan kekompakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, inisiatif untuk saling mengerti, rasa ingin saling memaafkan, dan kekompakan. Setiap orang memiliki tujuan hidup dan ego yang berbeda-beda. Setiap orang juga memiliki persepsi yang berbeda walaupun sebenarnya bertujuan sama.
Pernahkah kalian berpikir bagaimana cara Wright bersaudara menyatukan konsep mereka dalam menciptakan model pesawat terbang? Dua orang yang walaupun bersaudara, namun memiliki ide dan kepribadian yang berbeda. Kebersamaan, kekompakan, dan rasa saling mengertilah yang menyatukan mereka, menyatukan persepsi dua orang yang berbeda. Kerja sama merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai sebuah cita-cita besar. Kebersamaan dan kekompakan perlu kita lakukan untuk membesarkan Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Mari kita membangun kebersamaan dan kekompakan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan jangan membangun kebersamaan dan kekompakan dalam keburukan.
Kekompakan memiliki dampak positif dan negatif, dampak positifnya adalah terjalinnya hubungan yang baik antar warga Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya yang menyebabkan terciptanya kerukunan dan adanya sikap mau mengalah serta mengurangi kesalahpahaman. Dampak negatifnya adalah ketika kekompakan diartikan sesuatu yang menimbulkan hal-hal negatif, seperti perkelahian, tawuran, dan lain-lain.
Hal-hal yang perlu diperhatikan agar Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya menjadi jurusan yang baik dan kompak adalah tetaplah bersikap baik, memiliki inisiatif untuk saling menolong dalam menciptakan kebersamaan dan kekompakan, membangun relasi antar jurusan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dan antar program studi di Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dengan baik. Hindari sifat iri, hindari sifat egosentrisme, dan yang tidak kalah pentingnya adalah tetap jaga kebersamaan dan kekompakan yang telah dibangun. Sama halnya dengan bermasyarakat dalam jenjang kuliah, diperlukan hal-hal tersebut.
Mari kita tingkatkan rasa kebersamaan dan kekompakan. Tanpa dua hal itu, apapun yang kita lakukan akan terasa susah. Dengan adanya kebersamaan dan kekompakan, kita akan merasa nyaman, segala sesuatu terasa mudah dan kita tidak perlu menanggung beban atau masalah sendirian. Mari kita tingkatkan kebersamaan dan kekompakan demi menjaga persatuan, kebersamaan, dan kekompakan dalam wadah Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tak ada gading yang tak retak, tak ada orang yang sempurna, belajarlah untuk memahami orang lain, dan terus jaga kebersamaan dan kekompakan.
Oleh : Ahmad Fajar Ramadhan
Media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu. Namun, bagaimana jika media massa atau pers dikendalikan oleh pemerintah secara ketat sampai adanya pembreidelan terhadap media massa?
Kekuasaan politik Orde Baru yang efektif tersebut berakar dari paling tidak empat sumber utama, yaitu represi fisik dan hukum, klientelisme ekonomi, wacana politik partikularistik yang mendukung otoritarianisme, dan pengembangan korporatisme negara. Tatkala Orde Baru berupaya untuk membangun konsolidasi politik di awal l970-an, kekerasan adalah instrumen utama yang dipakai oleh pemerintah Orde Baru dalam mencapai stabilitas politik. Aktivitas politik di periode sebelumnya dihancurkan dan kekuatan oposisi dibatasi. Termasuk dengan kebebasan pers di era orde baru yang sangat dibatasi. David T. Hill dalam bukunya yang berjudul Pers di Masa Orde Baru membahas tentang perkembangan pers setelah merdeka khususnya pada masa pemerintahan Orde Baru. Orde Baru membangun relasi saling terkait yang pelik antara kendali keamanan dan undang-undang tangan besi yang mengendalikan pers. Pers di bawah pemerintahan Presiden Soeharto yang berusaha untuk menghilangkan organ-organ partai dan surat kabar-surat kabat yang kritis, menjinakkan pers pembuat kegaduhan, dan memastikan bahwa para pekerja dan pihak manajemen pers bertanggung jawab secara mutlak pada pemerintah.
Dalam buku ini juga dipaparkan tentang periode-periode pemerintah melakukan tindakan anti pers atau lebih sering dikatakan sebagai pembredelan terhadap pers, kebebasan pers yang pernah dijanjikan oleh pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto hanya sebagai kebebasan semu. Ini terbukti dari adanya pembreidelan terhadap surat kabar maupun majalah karena dianggap memuat berita yang dapat mengganggu kestabilan politik.
Pada masa Orde Baru terdapat peraturan tentang adanya keharusan mendapatkan izin untuk menerbitkan surat kabar, namun proses untuk mendapatkan izin cukup sulit, ditambah kebebasan pers hampir dikatakan tidak ada ketika adanya Undang-Undang Pers 1982 mencantumkan pasal keharusan mendapatkan Surat Izin Usaha Percetakan Pers (SIUPP), meskipun Surat Izin Terbit dihapus, dengan munculnya SIUPP sebagai alat kontrol terhadap pers oleh pemerintah. Peraturan ini lebih berat dirasakan oleh industri pers karena ketika surat kabar dan majalah dianggap memberitakan isu-isu yang dapat mengganggu kestabilan keamanan dan politik serta kehidupan Presiden Soeharto, maka Menteri Penerangan dapat membatalkan SIUPP yang diberikan. Tindakan tersebut memberikan dampak yang sangat merugikan bagi industri pers karena surat kabar dan majalah dibreidel dan tidak ada sumber rezeki dari industri pers yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi para karyawan.
Pembatalan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) terhadap tiga media massa nasional yaitu Majalah Berita Mingguan Tempo, Editor, dan Detik oleh Pemerintahan Orde Baru pada 21 luni 1994 lalu telah menimbulkan reaksi yang keras dari masyarakat. Praktek pembreidelan terhadap pers itu cukup kontradiktif dengan kampanye keterbukaan politik dan demokratisasi yang digembor-gemborkan oleh Pemerintah Orde Baru. Banyak protes yang muncul dari berbagai kalangan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populer itu. Serangkaian demonstrasi pun meletup, yang dipelopori oleh elemen masyarakat yang beragam, dari wartawan, aktivis-aktivis sosial, mahasiswa, dan cendekiawan. Semuanya bermuara pada gugatan yang sama, yaitu menuntut kebebasan pers di Indonesia dan mengecam tindakan pemerintah yang tidak demokratis. Mereka menganggap apapun alasannya, pembreidelan terhadap pers tidak dapat diterima.
Jaminan terhadap kebebasan pers telah menjadi syarat mutlak bagi upaya demokratisasi. Pers dianggap sebagai pilar demokrasi keempat setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pers memposisikan dirinya menjadi letnbaga kontrol sosial dalam praktek kehidupan bernegara. Melalui lembaga pers, masyarakat dapat melakukan kritik dan koreksi terhadap realitas sosial politik yang sedang berlangsung. Kebebasan pers sekaligus juga manifestasi dari kebebasan berpendapat dan berpikir yang merupakan hak dasar manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Pembreidelan terhadap kehidupan pers adalah suatu bentuk kekerasan terhadap hak dasar manusia. Protes yang muncul atas tindakan pembreidelan pada umumnya berangkat dari keyakinan seperti itu. Represi terhadap kebebasan pers yang bermakna pada kebebasan berpendapat, tentu saja memancing konflik sosial-politik, antara kepentingan pemerintah dan hak masyarakat, yang semua itu mengarah kepada situasi yang tidak harmonis.
Di bawah kondisi politik yang otoriter, tarik menarik antara kepentingan pemerintah dan masyarakat secara umum, selalu saja dimenangkan oleh pemerintah. Akibatnya pers tidak lagi bebas dalam menyuarakan kepentingan publik, tapi ia harus tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang diterapkan oleh pemerintah. Apabila pers keluar dari jalur yang secara hegemonik ditancapkan oleh pemerintah, maka berakibat hilangnya hak hidup pers yang bersangkutan. Pemerintah melalui lembaga-lembaga di bawahnya akan menghabisi eksistensi pers tersebut.
Mengapa orde baru membungkam pers?
Makrop
2:46 AM
Makrop
2:46 AM
![]() | ||||
Kini seluruh dunia sedang menjadi
panggung drama, dimana semesta lah yang sedang berperan di dalamnya. Tidak ada
yang tahu pasti apakah pandemi ini terjadi atas kehendak alam semesta atau ada konspirasi dibalik ini semua. Tetapi kita
ketahui bersama bahwa Covid19 benar-benar ada dan sudah memakan jutaan korban
jiwa di seluruh dunia. Semua manusia mengalami culture shock atau gegar budaya.
Menurut ilmu antropologi culture shock yaitu kegelisahan yang mengendap yang
muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial.
Jadi pandemi yang sedang terjadi membuat manusia menjadi bingung dan sukar
beradapatsi untuk melakukan kegiatan.
Dalam hal ini kemunculan Covid19 menjadi
ancaman bagi kehidupan terutama dalam
hal kesehatan, bahkan mampu mengancam nyawa. Tetapi tidak menutup kemungkinan
Covid19 ini akan berdampak memunculkan sebuah masalah baru, terutama pada
bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dll. Hal inilah yang menjadi sebuah
krisis besar yang harus dihadapi dan harus mencari solusi yang solutif tanpa
diskriminasi hak sesama.
Bahaya dan ketakutan adalah hal yang
berbeda, namun pada masa pandemi seperti sekarang ini kedua hal tersebut
sangatlah tipis bedanya. Kondisi saat ini lebih banyak orang mengalami
ketakutan, sehingga mengalami depresi atau stress dan banyak orang yang
melakukan tindakan atas dasar ketakutan untuk menghindari bahaya dari Covid19
sehingga tidak jarang menjumpai oknum yang memanfaatkan pandemi ini untuk
keuntungan pribadi tanpa menimbang kemaslahatan orang banyak. Presiden Ir.
Soekarno pernah berpesan ” Kita hidup dalam dunia ketakutan. Kehidupan manusia
saat ini berkarat dan terasa pahit karena ketakutan akan masa depan, takut akan
bom hidrogen, takut akan ideologi. Mungkin ketakutan ini adalah bahaya yang
lebih besar daripada bahaya itu sendiri, karena ketakutanlah yang mendorong
manusia untuk bertindak bodoh untuk bertindak tanpa berpikir, untuk bertindak
berbahaya.” pesan tersebut sangat bermanfaat bagi kita untuk berperilaku arif
dalam mencegah atau menghindari ancaman dari Covid19. Jangan jadikan ketakutan
sebagai pandangan pesimis, jadikan kewaspadaan sebagai tindakan yang optimis.
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata
dalam bukunya (Bumi Manusia) “Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang
tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang
terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya.” Dari kutipan tersebut
kita bisa memetik pesan moral bahwa sebagai manusia yang terpuji ialah manusia
yang mampu melakukan kemauan baiknya dan bermanfaat bagi sesama. Pada masa
pandemi seperti ini hal yang penting
adalah simpati dan empati sosial, yaitu bersama bergandengan tangan dan
bergotong-royong melawan Covid19.
BERDAMAILAH SEMESTA
HIMAJPE-UNESA
6:59 PM
HIMAJPE-UNESA
6:59 PM
![]() |
Indonesia sedang dirundung oleh berbagai ujian, banyak manusia yang
merasa terpuruk dan jatuh didalam kondisi saat ini, mereka sebenarnya
tidak mengetahui bagaimana kondisi sesungguhnya yang dihadapi oleh orang
- orang diluar sana dengan banyak sekali kekurangan. Kita sedang
diposisi yang sama yaitu sedang tersenyum tapi ingin
menangis, sedang berbicara tapi ingin diam, sedang terbebas tapi ingin
terbelenggu, dan ada satu persatu rasa ingin hilang itu muncul. Ada
banyak langkah kita saat ini yang sedang terhenti oleh kondisi dan waktu
yang terus mengitari dan kembali lagi kepada semesta yang
menyelesaikannya. Syukuri dalam setiap apa yang kamu miliki, karena
belum tentu apa yang kamu miliki dapat dimiliki orang lain diluar sana.
Biarkan kali ini semesta yang bekerja untuk menyelesaikan semua ini
dengan caranya, biarkan semesta bermain peran sesungguhnya, biarkan
semesta yang menjawab pertanyaan semuanya dengan jawaban yang
mengindahkan dan menyejukkan. Kita genggam tangan orang - orang
disekitar kita untuk sama - sama saling menguatkan, memberi rasa nyaman
untuk terus berjalan di koridor yang sudah disediakan, kita yakin kita
bisa melewati ini semua bersama - sama dan yakinlah kita sedang berada
di posisi yang sama dan tidak sedang sendiri ditempat yang sepi. Kamu
hanya saja sedang dihantui rasa takut dan sedang berada pada ruang hampa
yang hanya ada di ilusi diri sendiri, kamu merasa hanya ada kamu
sendiri ditempat itu, matamu hanya terpejam sementara untuk melihat
kegelapan, kini waktunya kamu membuka mata untuk melihat indahnya warna -
warni dari duniamu yang penuh dengan kebahagiaan dan kesetiaan.
MENGASA DALAM ASA
HIMAJPE-UNESA
1:14 PM
HIMAJPE-UNESA
1:14 PM





